Thursday, July 31, 2008

Aryana





Sartono





Thursday, October 18, 2007

Sumber; Republika,Rabu, 17 Oktober 2007

Butuh Waktu Lama untuk Benahi Keungan Daerah


Seharusnya lulusan STAN diberi tugas sebagai akuntan pemerintah ke berbagai daerah.

JAKARTA -- Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) masih membutuhkan waktu cukup lama agar dapat memenuhi standar yang ditetapkan pemerintah. Menurut Menteri Keuangan, Sri Mulyani, kendala terbesar soal itu terletak pada minimnya sumber daya manusia yang paham seluk beluk laporan keuangan pemerintah.


"Jika ditanya time frame saya bahkan tidak bisa mengatakan 2010 selesai," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di sela-sela acara silaturahmi Idul Fitri di kediamannya, Sabtu (13/10). Kebiasaan pemerintah daerah membuat laporan keuangan pun, menurut dia, baru berlangsung selama dua tahun. Pemerintah sendiri baru menerapkan standar akuntansi pemerintahan untuk kementrian dan lembaga pemerintah sejak tiga tahun lalu.

Kesulitan pemerintah daerah untuk membuat laporan keuangan, menurutnya, terutama dialami bagi daerah hasil pemekaran. Selain itu tenaga akuntan yang dimiliki, pada umumnya juga bukan yang benar-benar paham cara membuat laporan keuangan negara.

Karena itu Menkeu mengusulkan agar lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) juga ditugaskan sebagai akuntan pemerintah ke berbagai daerah. Namun sayangnya, ujar Sri Mulyani, lulusan STAN hingga 2010 sudah akan habis terpakai Departemen Keuangan, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). "Untuk bisa mensuplai kementerian/lembaga yang lain baru bisa di atas 2010," ujar Sri Mulyani.

Guna mengisi kekurangan tersebut, menurut Menkeu, Departemen Keuangan akan mencangkokkan mata kuliah administrasi pemerintahan di berbagai universitas. Selain kerjasama dengan berbagai universitas, khususnya yang berada di daerah, departemen keuangan juga akan melakukan pelatihan bagi kementrian dan lembaga.

Akselerasi tersebut direncanakan dilakukan antara Dirjen Perimbangan Keuangan dengan berbagai universitas di daerah. "Dananya akan dibiayai APBN," ujar Menkeu. Namun Menkeu meminta daerah dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) tinggi untuk aktif melakukan pelatihan sendiri agar segera dapat membuat laporan keuangan yang ditetapkan departemen keuangan.

Cara lain yang ditempuh yakni, dengan penerapan standar keuangan secara bertahap. Misalnya untuk standar akuntansi mengenai aset negara, diharapkan telah dapat distandardisasikan pada 2009. "Aset negara ditargetkan sudah dapat tercatat mendekati nilai masa sekarang (current value) pada 2009," ujar dia.

Hasil pemeriksaan BPK menunjukkan mayoritas LKPD belum bisa mendapatkan opini wajar tanpa pengecualian. Dari sebanyak 362 LKPD yang diperiksa, BPK memberi opini 'wajar dengan pengecualian' sebanyak 284 LKPD. 'Wajar tanpa pengecualian' kepada 3 LKPD, 'tidak wajar' kepada 19 LKPD, dan 'tidak menyatakan pendapat' (disclaimer) kepada 56 LKPD.

Sebelumnya anggota BPK Hasan Bisri menilai pemda ataupun pemerintah kabupaten, khususnya kabupaten pemekaran banyak yang baru bisa melaporkan rencana realisasi anggaran. Padahal dalam laporan keuangannya seharusnya meliputi neraca, arus kas dan serta laporan realisasi anggaran. una
( )

Sumber ; Republika, Kamis, 18 Oktober 2007

Dikotomi Penelitian

Oleh :

Jujun S Suriasumantri
Guru Besar Filsafat Ilmu Program Pascasarjana UNJ

Kita mungkin pernah mendengar lagu yang enak yang dibawakan dengan teknik pas-pasan, dan di pihak lain, lagu yang biasa-biasa saja namun dibawakan dengan teknik menyanyi yang baik. Kedua hal ini dapat diibaratkan sebagai penelitian profesional dan akademik; keduanya berbeda, dan untuk itu, keduanya memang harus dipisahkan. Tanpa pemisahan yang jelas maka penilaian kita terhadap entitas masing-masing akan menjadi samar dan mengelirukan. Tanpa pembeda yang jelas maka penelitian akademik kurang berfungsi sebagai sarana pendidikan dalam penguasaan keilmuan.


Orientasi hasil
Dalam penelitian profesional yang penting adalah hasilnya. Tanpa hasil penelitian yang nyata dan bermanfaat maka penelitian profesional tak ada artinya. Balai penelitian pertanian yang tidak menghasilkan varitas tanaman baru bisa ditutup karena dianggap tidak ada gunanya. Badan pengembangan teknologi yang tidak menghasilkan teknologi baru lebih mencerminkan birokrasi daripada institusi keilmuan. Peneliti profesional, termasuk dosen perguruan tinggi, dituntut untuk menghasilkan produk yang bermutu atau tutup buku.

Proses penelitian profesional, berbeda dengan anggapan orang, adalah kegiatan yang tidak sistematis namun penuh dengan imajinasi dan kreativitas yang tidak ada dalam buku teks. Dalam konteks ini, meminjam perkataan pemenang hadiah Nobel fisika PW Bridgman, kegiatan ilmiah merupakan cara berpikir gue secara semau gue. Tak ada langkah sistematis seperti kita temukan dalam pedoman metodologi penelitian. Penelitian profesional dapat diibaratkan filsafat tukang kepruk: pukul dulu, urusan belakangan. Secara epistemologis hal ini berarti: temukan dulu, baru kemudian kita berikan justifikasi keilmuan. Proses penemuan ini tidak bersifat linier melainkan sirkular.

Inilah sebenarnya hakikat dari epistemologi penemuan ilmiah yang diajarkan dalam sistem pendidikan kita dan menjadi acuan. Setelah permasalahan penelitian dirumuskan maka langsung dilakukan pengumpulan data berdasarkan referensi yang ditulis dalam kajian pustaka. Hipotesis diajukan namun lebih berfungsi sebagai hipotesis yang tidak bersifat definitif. Hipotesis ini lebih berfungsi sebagai hipotesis statistis ketimbang jawaban sementara terhadap permasalahan yang diajukan. Setelah data dikumpulkan kemudian diolah dan disimpulkan sebagai kesimpulan penelitian. Kesimpulan penelitian ini selanjutnya diberikan penjelasan teoretis dalam pembahasan.

Epistemologi ini memberi kemudahan kepada ilmuwan profesional sebab dia tidak usah mengajukan hipotesis yang definitif sebelum pengumpulan data dilakukan. Baru sesudah dia yakin akan penemuan yang ditarik secara induktif dari data maka dia akan memberikan justifikasi dengan mengacu pada teori-teori yang relevan serta memformat ulang seluruh proses penelitian sesuai kaidah keilmuan. Sering orang menafsirkan kajian pustaka dengan justifikasi dan ini adalah kekeliruan. Kekeliruan ini menyebabkan peneliti sering 'kelupaan' memberi justifikasi teoretis dalam pembahasan yang menyebabkan penelitian ilmiah menjadi kurang berbobot.

Sebenarnya, ilmuwan profesional secara implisit biasanya sudah mempunyai hipotesis yang definitif bagi penelitiannya, atau paling tidak embrio dari apa yang ingin ditemukannya. Namun hal ini disimpan sampai dia menemukan ramifikasi (bentuk baru) data yang mendukung gagasannya. Secara kritis dia akan menafsirkan data dan mengadakan pengulangan sampai kekeliruan dapat dicegah. Tetapi lain hal bagi peneliti pemula. Epistemologi ini megandung bahaya sebab dia cenderung menerima tanpa penalaran kritis apapun yang menjadi kesimpulan pengolahan data.

Orientasi proses
Kalau memang aspek penemuanlah yang paling penting, yang kalau perlu memarjinalkan penalaran kritis dalam prosesnya, maka penelitian akademik sebagai sarana edukatif tidak berfungsi secara efektif. Menurut hemat saya, justru penalaran kritis inilah, terutama dikaitkan dengan pemanfaatan teori ilmiah yang berfungsi untuk mendeskripsikan, menjelaskan, memprediksikan dan mengontrol gejala alam yang harus menjadi fokus utama.

Penelitian akademik, berbeda dengan penelitian profesional yang mengutamakan output, harus lebih menekankan proses dalam pelaksanaannya. Produk penelitian akademik dari sistem pendidikan bukanlah pengetahuan atau teknologi baru, melainkan manusia yang mempunyai kualifikasi tertentu sesuai dengan jenjang pendidikannya. Di Amerika Serikat sendiri, yang setiap tahun menghasilkan lebih dari 20 ribu doktor, hanya sedikit sekali disertasi yang dipublikasikan dari para doktor itu mempunyai manfaat langsung.

Penelitian akademik pada hakikatnya bertujuan memberikan kemampuan kepada peserta didik untuk menguasai dan mempraktikkan segenap aspek keilmuan dari teori-teori ilmiah yang sudah dipelajarinya selama ini sesuai dengan hakikat keilmuan. Bimbingan dan proses penelitian akademik dapat diibaratkan sebagai supervisi terakhir bagi sebuah produk yang dicap layak sebelum meninggalkan pabrik.

Secara lebih rinci penelitian akademik bertujuan melatih kemampuan yang mencakup antara lain (1) menerapkan teori sesuai dengan fungsinya; (2) menyusun kerangka berpikir dalam menghadapi masalah; (3) berpikir prediktif (hipotetis) berdasarkan kerangka berpikir yang argumentatif dan nalar; 4) kemampuan menyusun instrumen penelitian dan kalibrasinya (validitas dan reliabilitas); (5) kemampuan menyusun metodologi penelitian yang sesuai dengan permasalahan (metode penelitian, metode pengambilan contoh, dan metode analisis data); (6) menafsirkan kesimpulan data secara kritis dengan melakukan recek terhadap metodologi penelitian bila terdapat keraguan; (7) menarik kesimpulan secara kritis terhadap hasil pengujian hipotesis, dan (8) mengembangkan implikasi penelitian dalam upaya pemecahan masalah.

Kalau memang inilah yang menjadi menjadi tujuan penelitian akademik, maka epistemologi yang cocok untuk itu adalah epistemologi pemecahan masalah yang menempatkan konteks justifikasi sebelum konteks penemuan dengan model masalah-konteks justifikasi-konteks penemuan. Secara kronologis maka masalah penelitian yang diajukan harus memanfaatkan terlebih dulu teori-teori ilmiah yang telah dikuasainya. Berdasarkan teori-teori ini kemudian dikembangkan penalaran deduktif yang membentuk kerangka berpikir untuk menemukan jawaban sementara terhadap masalah yang dihadapi. Jawaban sementara ini kemudian diuji secara empiris apakah didukung data atau tidak.

Berpikir konseptual, nalar dan prediktif merupakan ciri utama dari epistemologi ini. Kita harus mengajukan hipotesis yang definitif, umpamanya 'terdapat pengaruh positif dari introduksi minum susu di pedesaan terhadap tingkat kesehatan penduduk'. Hipotesis ini harus didukung oleh argumentasi dan nalar yang kuat, lain dengan hipotesis yang netral seperti 'terdapat pengaruh dari introduksi minum susu di pedesaan terhadap tingkat kesehatan penduduk' yang dapat diajukan secara begitu saja. Bagi pengujian hipotes netral bila datanya menunjukkan pengaruh positif atau negatif, maka hal itu tidak menjadi soal.

Lain bagi peneliti yang mengajukan hipotesis definitif yang konsisten dengan teori ilmiah, pengaruh negatif susu terhadap kesehatan penduduk mengusik pikirannya, sebab baginya penemuan ini tidak konsisten dengan kerangka berpikirnya. Untuk itu dia tidak percaya begitu saja kepada data yang diperolehnya dan melakukan evaluasi kritis terhadap apa yang telah dilakukannya. Pertama sekali dia melakukan evaluasi terhadap metodologi penelitian siapa tahu ada kekeliruan di dalamnya. Bila tidak ada, dia mulai mencari penjelasan logis terhadap data yang tidak konsisten dengan teori yang dipergunakannya. Ternyata, orang desa yang belum biasa minum susu menderita sakit diare, jadi masuk akal kalau minum susu menyebabkan tingkat kesehatan malah menjadi turun dan bukan naik.

Jadi dari hipotesis yang ditolak kita justru mendapatkan pengetahuan baru dan menyarankan introduksi minum susu diteruskan namun dengan ditambah obat anti diare. Dari hipotesis yang ditolak saja kita mendapatkan berkah apalagi dari hipotesis definitif yang diterima. Hipotesis yang orisinal biasanya melawan arus dan betul-betul harus didukung oleh argumentasi yang kuat. Inilah kelebihan epistemologi pemecahan masalah yang cocok untuk kegiatan pendidikan dalam mengembangkan berpikir konseptual, nalar, dan antisipatif. Kalau hal ini sudah terbiasa dan terinternalisasi maka cara berpikir ini akan menjadi nilai yang membentuk karakter individu yang selanjutnya membentuk karakter bangsa. Dewasa ini, bangsa kita seperti sedang mengidap sindrom manusia expost facto: baru ribut sesudah sesuatu terjadi dan bukan memperkirakan sebelumnya.

Thursday, February 22, 2007

Link Berita/Artikel Penting untuk Hidup Anda

Kajian Psikologi Agama


Indonesiaku



Sunday, February 4, 2007

Bunga Kehidupan

















Sunday, January 21, 2007

Mohon para pemirsa dapat memberi komentar pada setiap Post, dengan cara klik Comment disebelah bawah setiap post, isikan komentar panjenegan, pilih other, isikan nama abaikan yang lain, publish. Untuk melihat komentar anda klik pada icin jam digital. OK, terima kasih atas comment penjenengan.
Koleksi URL :

Wiko

Bu Retno khiitanan wiko, semoga menjadi anak yang soleh berbakti kepada orang tua, kalau sudah besar berguna bagi nusa dan bangsa, amin.

Roemahku

Griyane bu Lardien, sejuk, hijau dan nyaman

Pengajian di Bu Lardien




Pengajian di bu Lardien, topiknya lagi in " Pligami", dan nampaknya para ibu-ibu peserta siap dan Ikhlas membantu mencarikan seandainya para suami berniat poligami, khusunya bu Asrori, bu Lardien, Bu Ulfah, bu Marliyati, Bu Lilis, Bu Murtini yang hadir pada pengajian tersebut. Ayo Pak Haji...mumpung...Ikhlas..


Tuesday, January 16, 2007


Wajah Baruku...kelihatan mewah to...

Monday, January 15, 2007

Nah ini baru benar-benar ruang kantorku yang baru... keren to....

Mobil Jenis ini..cocok untuk Kajur...gesit.

Sekjur...mobil seperti ini mau nggak ya....

Kalau yang ini Pit Montor yang setia menemani dinas pak Hartono selama 20 Tahun. Bocor ya.. pak...dorong ...di depan koperasi ada tambal ban.

Ini Baru Mobilku.. baru.. he...he.....he.....